Marga Harahap

Halak Arab

Marga Harahap, kerap disebut sebagai singkatan dari Halak Arab (Orang Arab), umum diterima sebagai keturunan Bangsa Arab yang berlayar sampai ke tanah Mandailing. Setiap perkampungan Harahap di Mandailing diberi nama “padang” seperti Padang Bolak dan Padang Sidempuan. Para pemuda dan pemudinya disebut dengan sapaan “Angin” yang mengartikan mereka adalah Pelayar yang hebat. Di perkirakan Harahap berasal dari Hadramaut, Yaman. Bangsa Hadramaut berlayar melalui samudera Hindia melewati Maladewa sehingga Harahap dahulu dikenal sebagai bangsa Mauli atau bangsa Mulia.

 

Pemakaian nama orang Arab masih dipakai sampai sekarang oleh marga Harahap. Misalnya, seorang anak perempuan Harahap mengambil nama tante adek bapak nya dan anak laki-laki memakai nama kakeknya. Budaya ini dilihat identik dengan bangsa Arab. Banyak pula marga Harahap yang menggunakan nama mengikuti nama-nama garis keturunan nabi Muhammad, penyebar agama Islam, seperti Habib, Ahmad, Muhammad, Said, Syarif, Alwi, Bashir, Fakhri, Ikhwan, Fatimah, Husein, Toyib dan lain-lain. Kehadiran bangsa Arab ini sendiri membuat Pagaruyung menyerang Tanah Padang Bolak dengan memblokade daerah pesisir barat Mandailing. Diperkirakan marga dibuat untuk melindungi keluarga dari serangan kerajaan lain.

 

Harahap sempat mendirikan Kerajaan Aru yang diperkirakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, yang dipimpin oleh Sultan Husin bergelar Ompu Toga Langit. Kerajaan Aru bekas kerajaan budha yaitu Sriwijaya yang hancur , sesuai namanya Aru/Ara (Pohon) yang orang Mandailing dulu menyembah Pohon sebagai tempat Begu.

 

Tetapi penyebaran Islam masa kerajaan Aru tidak sehebat dan secepat kerajaan Aceh, hal ini dikarenakan penyebaran agama islam hanya dilakukan dengan media perkawinan bukan peperangan. Makanya sampai sekarang yang satu marga dilarang menikah ini ditujukan agar agama Islam bisa menyebar tanpa peperangan. dan juga letak kerajaan Aru sendiri yang jauh dari selat malaka jalan lintas hanya melalui sungai Barumun, Siak, Bilah dan Rokan. Berakhirnya Kerajaan Aru ialah pada masa Sultan Syarifuddin atau bergelar Sutan Nasinok yang memiliki jiwa yang malas dan tidak berwibawa.

 

Marga Harahap dalam Batakologi

Berbeda dengan versi Halak Arab tadi, genealogi Batak memasukkan marga Harahap adalah salah satu marga di subetnis Mandailing dansubetnis Angkola.

 

Marga Harahap terjadi selaku pecahan dari grup marga Borbor, di Habinsaran sudah agak jauh sebelah timur dari Danau Toba. Berlainan dengan marga Lubis, seluruh marga Harahap ikut bermigrasi. Tidak satu pun anggota dari marga Harahap yang tertinggal di Tapanuli Utara.

 

Awalnya, marga Harahap bermigrasi ke arah Timur. Orang-orang marga Harahap turun dari dataran tinggi Habinsaran, menapaki sepanjang pinggiran (down-hill) sungai Kualu, dan masuk ke dataran (prairies) di daerah Padanglawas.

 

Pertanian adalah hal yang sulit di daerah pedataran, akibatnya orang-orang marga Harahap beralih dari pertanian ke peternak (cattle breeders). Mereka terpaksa pula berpindah-pindah (nomadic), mengikuti arah merumputnya ternak (grazing cattle). Orang-orang marga Harahap menjadi horse mounted ‘Cow Boys’. Menunggang kuda (horse riding) mengembara mengikuti arah ternak merumput. Padanglawas memang bagus untuk peternakan kuda, sapi dan kerbau.

 

Hanya dalam waktu dua generasi, masyarakat marga Harahap sudah menguasai daerah yang begitu maha luas antar sungai Asahan dan sungai Rokan. Di situlah di tepi sungai Barumun, Gunungtua menjadi sentra perdagangan ternak dari orang-orang marga harahap. Di sekitar daerah Langgapayung terjadi transit point, di jalur perdagangan di daerah Padanglawas yang hanya menghasilkan ternak. Tidak ada beras, karena bukan daerah pertanian. Maka terjadilah barter di Langgapayung.

 

Tidak semua masyarakat marga Harahap merasa bahagia dengan kehidupan nomaden. Ada juga sebagian yang ingin menetap menjadi peladang,mempunyai rumah yang tetap, dengan kebun singkong, dengan tata cara kehidupan yang tetap. Lalu mereka mencari daerah pertanian sepanjang sungai Barumun, dan memasuki daerah Sipirok di Bungabondar, Hasang, dan Hanopan.

 

Daerah Sipirok sudah dilewati oleh orang-orang marga Lubis sebelummnya. Artinya: Daerah Sipirok hutan-hutannya sudah habis dibakar, dan top-soil (lapisan subur tanah) sudah hanyut. Erosi menjadi tanah tandus. Sebagian besar dari orang-orang marga Harahap berjalan terus, dan turun memasuki daerah Angkola. Hutan-hutan di Angkola pun sudah habis dibakari oleh orang-orang marga Lubis yang lewat disitu. Akan tetapi, daerah Angkola bukannya menjadi Tano Garing (berarti “tanah tandus”). Malah sebaliknya, daerah Angkola menjadi bertambah subur karena tanah rendah. Top-soil dari jurusan Sipirok terakumulasi (berkumpul) di Angkola, tepatnya di sekitar sungai Batang Angkola.

 

Orang-orang marga Harahap berdiam (settled) di Angkola, daerah plus, dan menjadi peladang yang makmur di daerah tersebut. Tidur di dalam rumah yang tetap, tidak lagi di bawah bintang-bintang cemerlang di samping kuda tunggangannya, seperti semula di Padanglawas. Seperti the horse mounted Sheiks Of Arabia, begitu jugalah orang-orang marga Harahap membawa feodalism ke tanah Batak Selatan.

 

Berlainan dengan tanah Batak Utara, di tanah Batak Selatan berlaku Feodal Lords. Mulai di Angkola, di mana timbul The Feodal Lord of Losungbatu, The Feodal Lord of Batunadua, dan The Feodal Lord of Hutarimbaru. Kemudian ditiru oleh orang-orang marga Siregar di Sipirok, dan orang-orang marga Nasution serta orang-orang marga Lubis di Mandailing.

 

Demikianlah caranya orang-orang marga Harahap yang berasal dari Habinsaran di sebelah South East (Tenggara) dari Toba, menjadi orang-orang tanah Batak Selatan di daerah pengaliran sungai Batangkola. Menjadi horse mounted slave owners pula, yang menganggap dirinya setinggi langit lebih tinggi daripada manusia lainnya.

 

Versi Lain

Menurut Buku “Harahap Pargarutan” sendiri, asal-usul Marga Harahap disebutkan di buku itu: Setelah 90 generasi Suku Bangsa Batak mengisolasi diri di kawasan Danau Toba, suku bangsa Batak menjadi dua (2) golongan, yakni Golongan keturunan Raja Isumbaon, dan golongan keturunan Guru Tatea Bulan.

 

Guru Tatea Bulan, mempunyai lima (5) anak:

  1. Raja Biak-biak
  2. Tuan Saribu Raja
  3. Mangaraja Limbong
  4. Mangaraja Salaya
  5. Mangaraja Malau

Tuan Saribu Raja mempunyai tiga (3) anak:

  1. Mangaraja Lontung
  2. Mangaraja Borbor
  3. Mangaraja Babiat

Mangaraja Borbor memiliki dua (2) anak:

  1. Bala Samahu
  2. Datu Altokniaji

Bala Samahu memiliki satu (1) anak:

  1. Datu Tala Dibabana

Datu Tala Dibabana memiliki dua (2) anak:

  1. Rimbang Saudara
  2. Sahang Mataniari

Rimbang Saudara memiliki enam (6) anak:

  1. Datu Pampangbalasaribu
  2. Harahap
  3. Tanjung
  4. Pusuk
  5. Datu Pulungan
  6. Nahulau

Penyebutan marga Harahap di belakang nama diri dimulai sejak cucu Rimbang Saudara. Jadi, Harahap adalah nama diri, yang kemudian menjadi marga keturunannya.

 

Submarga Harahap

Marga Harahap terdiri dari bebeberapa sub-kelompok. Sub Kelompok menunjukkan kampung asal. Bagian-bagian marga Harahap antara lain adalah:

 

    1. Harahap Sidakkal – Harahap ini merupakan keturunan dari Sutan Maujalo yang berasal dari Jambur Batu. Jambur Batu berada di Tabusira terus ke arah Luat Harangan. Harahap Sidakkal ini keturunannya sudah menyebar di Padang Bolak, Mandailing, Angkola.

    2. Harahap Mompang – Harahap ini merupakan keturunan dari Sutan di Langit yang berasal kata orang-orang kuburannya ada di Siharang-karang Sidempuan. Harap Mompang ini juga menyebar ke Padang Bolak sepanjang Aek Sirumambe sampai ke Portibi, apalagi di Angkola, dan Mandailing

    3. Harahap Simataniari – Harahap ini berasal dari Sianlang di pinggir sungai Batang Ilung. Harahap Simataniari ini sudah menyebar banyak di Padang Bolak.

    4. Harahap Simatongtong – Harahap ini banyak tersebar disekitar Padang Sidempuan, tapi asal kata orang-orang berasal dari Sipaho di daerah Halongonan.

    5. Harahap Batang Onang – Harahap ini berasal dari sekitar Batang Onang dan keturunannya tersebar sampai ke Mandailing, Padang Bolak dan Batang Onang Sendiri. Harahap Batang Onang ini selanjutnya terbagi atas keturunan Sutan Sulappe dan keturunan Sutan Nasinok.

 

 

 

Sumber:

  1. Wikipedia
  2. Horas News

2 thoughts on “Harahap

    1. Terima kasih atas tanggapannya, Saudara Muhammad Mahdiera Harahap.
      Tampilan tulisan dalam foto yang Saudara kirimkan mungkin bisa kita jadikan sebagai counter-source untuk penelitian lebih lanjut. Jika berkenan, Saudara boleh mengirimkan file foto aslinya ke kami atau melalui tulisan olahan Saudara sendiri yang memuat silsilah seperti pada gambar kiriman Saudara pada comment Saudara ini.

      Adapun perihal sumber yang menyebutkan bahwa leluhur Harahap itu adalah dari Arab, selain sumber lisan yang kami temui, juga dari sumber-sumber yang tersedia di internet.

      Misalnya:

      https://irsatadananharahap.blogspot.co.id/2016/05/mantanku.html