Istilah

Istilah-istilah Toba dalam Tarombo


  1. Tarombo : silsilah garis keturunan yang diwariskan melalui pihak ayah dalam suku Batak.
  2. Marga : Nama atau gelar leluhur yang diwariskan kepada keturunannya, lazimnya disematkan oleh masyarakat Batak sebagai nama akhir. Esensi dari marga ialah: “Bapak, putra dan putri yang merupakan kesatuan akrab; yang mengalami serta menikmati kehidupan bersama, yakni kebahagiaan, kesukaran, pemilikan benda serta pertanggung-jawaban melanjutkan hidup keturunan dengan atau tanpa menggunakan bekal warisan pembagian dari tanah leluhur.”
  3. Padan : Janji atau ikrar antar 2 atau lebih marga, untuk tidak saling mengawini dan (atau) untuk saling melindungi
  4. Sundut: tingkatan generasi
  5. Si Raja Batak: Manusia yang diyakini menjadi awal dari semua sundut marga orang Batak. Diperkirakan hidup sekitar tahun 1200-an Masehi
  6. Raja Sisingamangaraja XII: Salah satu pahlawan nasional Indonesia yang diyakini merupakan keturunan Si Raja Batak generasi ke-19 (wafat 1907)
  7. Si Raja Buntal: putra Raja Sisingamangaraja XII (generasi ke-20 dari Si Raja Batak)
  8. partuturon: tata sapaan bagi orang Batak yang menjadi pintu komunikasi adat-istiadat baik dalam tarombo maupun dalam tatanan hidup harian.
  9. dalihan na tolu: sistem kekerabatan dan tatanan sosiologis orang Batak yang mengatur tiga aspek partuturon utama yaitu dongan sabutuha, hulahula dan boru.
  10. dongan sabutuha: kerabat semarga
  11. hula- hula: laki-laki dari pihak keluarga ibu/isteri seorang Batak, biasa disapa dengan panggilan “lae” (untuk yang sebaya) atau “tulang” (untuk yang lebih tua)
  12. nantulang: isteri tulang
  13. boru: panggilan dari hula-hula kepada pihak keluarga atau dongan tubu dari pihak yang mengambil putri hula-hula sebagai isteri.
  14. ampara: panggilan sesama orang Batak yang semarga (mardongan tubu)
  15. namboru: adik atau kakak perempuan ayah
  16. amangboru/makkela: suami dari namboru
  17. bapatua/amangtua: panggilan kepada abang dari ayah
  18. amanganggi/amanguda/bapaanggi/bapauda: panggilan kepada adik laki-laki ayah
  19. ito/boto: panggilan untuk kakak/adik untuk kerabat dari lawan jenis
  20. pariban: boru ni tulang (putri dari tulang) yang dapat kita jadikan istri
  21. pariban na so boi olion: pariban yang tidak bisa kita jadikan isteri karena larangan, baik karena padan ataupun halangan dari partuturon.
  22. bao: isteri/suami dari ipar kita.
  23. parsubangon: peraturan-peraturan pantangan (“parsubangon” = yang dipantangkan), terutama antar anggota keluarga dan partuturan yang berlainan jenis kelamin
  24. ripe: rumah tangga atau keluarga-keluarga inti yang hidup sebagai tetangga dekat. Di ruma bolon (rumah tradisional Batak Toba) dulu sangat umum ada empat atau lima rumah tangga yang tinggal serumah, masing-masing tinggal dalam bilik dan antar bilik tidak dipasangi dinding atau pemisah permanen.
  25. pardongan sabutuhaon: dasar partutuoran dalam hal berteman semarga
  26. parhula ianakkonon: dasar partuturon dalam hal berteman tidak semarga
  27. paratur ni parhundulon: posisi duduk sesuai partuturan dalam pelaksanaan adat-istiadat Batak, pada dasarnya untuk memastikan bahwa pihak yang pantas mendapat penghormatan, dihormati menurut porsi dan prioritasnya
  28. suhut/hasuhuton: pihak yang empunya hajatan atau menjadi tuan rumah utama dari suatu ritual adat-istiadat
  29. Golongan dongan tubu (sabutuha): dongan sa-ama ni suhut (saudara kandung), paidua ni suhut atau ama martinodohon (keturunan amangtua dan amanguda), hahaanggi ni suhut/dongan tubu atau ompu martinodohon (teman sekampung yang semarga), panamboli/panungkun ni suhut (kerabat jauh), dongan sa-marga ni suhut (satu marga), dongan saina ni suhut (saudara beda ibu), dongan sapadan ni marga/pulik marga (kerabat beda marga tetapi masih dihitung sebagai semarga, misalnya Tambunan dengan Tampubolon)
  30. Golongan boru: iboto dongan sa-ama ni suhut (ito kandung suhut), boru tubu ni suhut (puteri kandung suhut), namboru ni suhut, boru ni ampuan, i ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba (perempuan pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung suhut), boru na gojong/ito (puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak ompung yang se-kampung pula dengan pihak hulahula), bere (keponakan laki-laki suhut), ibebere/imbebere (keponakan perempuan), boru ni dongan sa-ina dohot dongan sa-parpadanan (ito dari satu garis tarombo dan perempuan dari marga par-padan-an), parumaen/maen (perempuan yang dinikahi putera suhut, juga isteri dari semua laki-laki yang memanggil suhut dengan sebutan ‘Amang’)
  31. Golongan hula-hula: tunggane dohot simatua (lae suhut dan mertua suhut), bona tulang = (tulang dari persaudaraan se-ompung), bona ni ari  (hulahula dari bapak ompung suhut, termasuk semua hulahula yang posisinya sudah jauh di atas), tulang rorobot (tulang dari lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari ompung boru dari lae-nya suhut berikut keturunannya), inang bao (puteri dari tulang rorobot, ini termasuk pariban na so boi olion), sude hulahula ni dongan sabutuha (semua hulahula dari dongan sabutuha)
  32. Panjouon (dalam partuturon): sapaan, panggilan atau cara memanggil yang tepat, biak dalam ritual adat-istiadat, tetapi terutama dalam kehiudupan sehari-hari.
  33. Panjouan sampai dua sundut generasi keluarga: amang/among (kepada bapak kandung), amangtua atau amang saja (kepada abang kandung bapak kita, abang dari bapak dongan sabutuha, abang dari bapak par-pariban-on), amanguda/bapauda/uda atau amang saja (kepada adik dari bapak kita, maupun adik dari bapak dongan sabutuha, adik dari bapak par-pariban-on, haha/akkang (kepada abang kandung kita, dan semua par-abang-on baik dari amangtua, abang dari kerabat semarga), anggi (kepada adik kandung kita, seluruh putera amanguda, semua laki-laki yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo), hahadoli/akkangdoli (kepada semua laki-laki keturunan dari ompu yang memperadikkan atau tumodohon ompung kita), anggidoli (kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang diperadikkan atau tinodohon ni ompung kita sampai kepada tujuh generasi sebelumnya), inang/inong (kepada ibu kandung kita), inangtua/omaktua (kepada isteri dari bapatua/amangtua),  inanguda (kepada isteri dari bapauda/amanguda), akkangboru (kepada isteri dari haha/akkang), anggiboru disapa “inang” (kepada adik perempuan kita, tetapi secara khusus kepada isteri dari adik kita).
  34. Anggi atau Anggia: panjouon sayang dan mesra kepada adik, baik kandung maupun saudara jauh.
  35. Panjouan sampai tiga atau lebih sundut generasi keluarga: ompung (kepada kakek kandung kita, ayah dari semua orang yang kita panggil dengan sebutan ‘Amang)’, ompu atau ompung (panggilan untuk datu/dukun, namalo/tabib, amang mangulahi (kepada bapak dari ompung kita), ompung mangulahi (kepada ompung dari ompung kita), ompungboru (isteri dari ompung), ompungboru mangulahi (isteri dari ompung mangulahi), pahoppu (kepada cucu, baik laki-laki/pahoppu anak maupun perempuan/pahoppu boru), nini (cicit dari pihak laki-laki/suami), nono (cicit dari pihak perempuan/isteri).
  36. Panjouon dalam konteks hubungan par-hulahula-on: simatua doli disapa “amang” (kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita), simatua boru disapa “inang” (kepada ibu, inangtua, dan inanguda dari isteri kita), tunggane disapa “tunggane” atau “lae” (yakni kepada ito dari isteri kita), tulang na poso disapa “tulang na poso” atau “tulang” saja (kepada putera tunggane kita), nantulang na poso disapa “nantulang na poso” atau “nantulang” saja (kepada puteri tunggane kita), tulang (kepada ito ibu kita), nantulang (kepada isteri tulang kita), ompung bao disapa “ompung” saja (kepada orangtua ibu kita)
  37. Panjouon dalam konteks hubungan par-boru-on: hela disapa “amanghela” atau “hela” saja (kepada laki-laki yang menikahi puteri kita atau puteri dari abang/adik kita), lae (kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita, juga kepada laki-laki yang menikahi ito; putera atau bapak dari amangboru), ito (kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita), amangboru (kepada laki-laki yang menikahi namboru, termasuk abang atau adik dari laki-laki yang menikahi namboru), bere (kepada abang/adik juga ito dari hela kita, kepada putera dan puteri dari ito kita, kepada ito dari amangboru kita).
  38. Di daerah seperti Silindung dan sekitarnya, dalam parparibanon, selalu umur yang menentukan mana sihahaan (menempati posisi haha), mana sianggian ( menempati posisi anggi). Tapi kalau di Toba/Samosir, aturan sihahaan dan sianggian dalam parparibanon serta dongan sabutuha sama saja aturannya.
  39. Mate tilaha: Kematian seorang pemuda/pemudi
  40. Mate ponggol ulu: Kematian seorang suami yang masih muda dan belum memiliki cucu atau keturunan.
  41. Mate matompas tataring: Kematian seorang isteri yang masih muda dan belum memiliki cucu atau keturunan.
  42. Mate saur matua: Kematian suami/istri yang sudah mempunyai cucu dan semua anak-anaknya sudah berkeluarga.
  43. Mate matua bulung: Kematian suami/istri yang telah mempunyai cucu (pahompu anak dan pahompu boru) bahkan sudah mempunyai cicit (nini dan nono)
  44. Ulos: kain yang digunakan sebagai simbol dan tanda sarat makna sekaligus penyampai pesan (kadang juga sebagai pengganti kata-kata) dalam berbagai ritual adat-istiadat
  45. Ulos saput: Ulos yang diberikan oleh pihak tulang kepada yang suhut atau keluarga suhut meninggal dunia sebagai tanda perpisahan.
  46. Ulos tujung: Ulos yang diberikan oleh pihak hula-hula kepada yang suhut atau keluarga suhut meninggal dunia sebagai tanda perpisahan
  47. Ulos holong: Ulos yang diberikan oleh semua pihak hula-hula, tulang rorobot, tulang bona ni ari, hula-hula ni na marhaha-maranggi kepada yang suhut atau keluarga suhut meninggal dunia sebagai tanda perpisahan
  48. Ria Raja: musyawarah yang diadakan untuk mempersiapkan kepergian seorang yang meninggal dunia dalam konteks Dalihan Na Tolu dan pihak yang tidak secara langsung termasuk dalam lingkaran keluarga dari yang meninggal dunia.
  49. Pangarapotan: musyawarah yang diadakan untuk mempersiapkan kepergian seorang yang mate sari matua.
  50. Boan: kurban atau persembahan yang dipotong/dipersembahkan pada hari H pelaksanaan perpisahan antara yang meninggal dunia dan keluarga yang ditinggalkan. Terutama diberikan sebagai tanda penghormatan oleh pihak keluarga yang tidak secara langusng berhubungan keluarga dengan yang meninggal dunia.
  51. Siparmiak-miak/na marmiak: boan berupa babi atau kambing.
  52. Lombu Sitio-tio: boan berupa sapi
  53. Gaja Toba: boan berupa kerbau
  54. Jambar: bagian yang diterima oleh orang tertentu dilihat dari kekerabatannya dengan suhut
  55. Parjambaron/Parjambaran: tata aturan pembagian jambar atau alokasi pemberian boan
  56. Jambar juhut: jambar berupa daging
  57. Jambar hata: jambar atau kesempatan untuk memberikan kata-kata, nasihat atau permintaan yang diberikan kepada seseorang dilihat dari kekerabatannya dengan suhut
  58. Tumpak: bantuan yang diberikan secara resmi dari pihak di luar keluarga inti dalam mempersiapkan acara adat, umumnya diberikan sebelum hari H pelaksanaan adat yang dimaksud.
  59. Tumpak di alaman: tumpak yang diberikan pada hari H di halaman atau tempat pelaksanaan acara adat pada hari H.
  60. Partuatna: momen pertanda selesainya seluruh rangkaian adat perpisahan dengan orang yang meninggal dunia yang berdasarkan Dalihan Na Tolu. Pada kesempatan ini suhut akan memberikan pisopiso atau situak na tonggi kepada hulahula; sebaliknya hulahula akan memberikan ulos. Pada saat ini juga tumpak dan jambar diberikan.