Partuturon Angkola

Tutur dalam masyarakat Adat Batak Angkola adalah kosakata yang digunakan sebagai sapaan antarkerabat (kinshipterms) sebagai bagian dalam budaya berbahasa masyarakat adat Batak Angkola. Sejajar dengan peta penyebaran masyarakat Angkola yang paling banyak tersebar di kabupaten Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal (Madina), sapaan tutur Angkola ini masih kerap dipertukarkan terutama oleh para penduduk pedesaan di Paluta, Padang Lawas dan Padang Sidimpuan.

Masing-masing tutur itu memiliki makna yang khusus dan mengandung nilai-nilai kesopanan dan penghormatan kepada yang lebih tua serta penghargaan terhadap yang sebaya atau lebih muda.

Klasifikasi tutur Angkola

Sebagai sapaan, tutur Angkola juga efektif berfungsi sosial dan memberi sumbangsih untuk memewujudkan ketentraman di lingkungan masyarakat adat, khususnya di daerah Batak Angkola.

Secara umum, tutur Angkola dapat diklasifikasikan menurut penutur dan alamat tutur tertentu, yaitu:

1. Khusus untuk wanita
2. Khusus untuk pria
3. Berlaku untuk pria dan wanita
4. Berlaku secara umum

Tutur khusus untuk wanita, yaitu tutur yang secara khusus hanya digunakan untuk lingkungan wanita, tidak dapat digunakan untuk kalangan laki-laki, meliputi:

a. Nantua (tua): sapaan untuk isteri dari saudara ayah yang lebih tua

b. Nanguda (inang uda): sapaan untuk isteri dari saudara ayah yang lebih muda usianya

c. Inde:  sapaan untuk wanita yang melahirkan kita maupun inde panggonti (ibu tiri)

d. Inde Tobang (tobang): sapaan untuk kakak perempuan inde, yang umurnya lebih tua dari inde

e. Ujing: sapaan untuk saudara ibu yang umurnya lebih muda dari ibu

f. Namboru (bou): sapaan untuk saudara wanita dari ayah

g. Nantulang: sapaan untuk ibu dari isteri kita; isteri dari tulang, baik tulang sendiri ataupun maupun tulang tutur

h. Parumaen (maen): sapaan untuk puteri dari saudara laki-laki isteri; termasuk isteri dari putera kita

h. Inang: sapaan formal untuk puteri kita; juga anak perempuan dari saudara kita, terutama yang sudah menikah.

i. Boru: sapaan untuk puteri kita; juga anak perempuan dari saudara kita, terutama yang belum menikah

j. Eda: sapaan dari seorang wanita terhadap puteri tulang dan nantulang; juga puteri dari namboru

k. Akkang adalah tutur yang ditujukan bagi wanita, usianya lebih tua dari kita.


Tutur khusus untuk laki-laki, yaitu tutur yang secara khusus hanya digunakan untuk laki-laki, tidak dapat digunakan untuk wanita, meliputi:

a. Amantua: sapaan untuk saudara ayah yang lebih tua usianya dari ayah

b. Uda: sapaan untuk saudara ayah yang lebih muda usianya dari ayah kita

c. Aya tobang: sapaan untuk uami dari inde tobang

d. Aya/ama/amang: sapaan untuk ayah

e. Amang boru: sapaan seorang wanita untuk ayah dari suaminya; termasuk termasuk saudara-saudara amang boru yang kandung, seayah atau seibu

f. Lae: sapaan untuk  anak dari namboru/amang boru

g. Tunggane: sapaan untuk anak laki-laki dari tulang atau saudara ibu

h. Tulang: sapaan untuk saudara laki-laki (iboto) ibu

i. Tulang naposo: sapaan untuk putera tulang.


Tutur yang berlaku untuk pria dan wanita, yakni tutur yang berlaku bagi laki-laki dan perempuan, di antaranya adalah:

a. Anggi: sapaan untuk laki-laki maupun wanita yang usianya lebih muda usianya dari kita serta belum ada tutur yang khusus untuk mereka; kurang lebih seperti adik dalam bahasa Indonesi

b. Abang: sapaan untuk saudara kita yang lebih tua usianya; sama dengan abang dalam bahasa Indonesia

c. Iboto (ito): sapaan untuk saudara kandung, saudara seayah atau seibu, termasuk anak-anak dari nantua, nanguda, inde-tobang dan ujing, berlaku bagi laki-laki ataupun perempuan

d. Bere: sapaan untuk anak laki-laki maupun perempuan dari saudara (perempuan) kita, baik yang kandung maupun yang seayah saja atau seibu saja

e. Oppung: sapaan singkat untuk kakek/nenek dalam masyarakat adat Batak Angkola

f. Oppung suhut: sapaan bagi orang tua dari ayah, baik kakek maupun nenek

g. Oppung bayo: sapaan bagi orang tua dari ibu (inde), baik kakek maupun nenek

f. Pahoppu: sapaan untuk cucu laki-laki maupun cucu perempuan, baik dari putera maupun puteri kita

g. Halak bayo (bayo): sapaan untuk isteri dari tunggane, termasuk boru tulang dari tunggane. Halak bayo (bayo) juga berlaku bagi suami dari iboto kita, termasuk saudara-saudaranya. Halak bayo ini bisa juga disebut ompung bayo.


Tutur yang berlaku secara umum, antara lain:

a. Kahanggi: sapaan untuk keturunan dari kakek-nenek yang sama

b. Kahanggi samudar: sapaan untuk semua keturunan dari kakek-nenek dari pihak laki-laki sampai ke cucu-cucunya yang berjenis kelamin laki-laki, baik kesamping maupun ke bawah. Misalnya kakek kita marga Siregar, maka semua cucunya yang bermarga Siregar menjadi kahanggi kita, termasuk kahanggi yang tidak ada hubungan darah, namun bermarga Siregar

c. Kahanggi pareban: sapaan untuk orang yang sepengambilan dengan kita, meskipun mereka berbeda marga, misalnya kita Siregar, sedangkan dia Harahap, tetapi sama-sama memperisteri boru Nasution. Kahanggi untuk yang seperti ini disebut juga kahanggi sapambuatan

d. Anak boru: sapaan untuk semua kelompok yang mengambil namboru dan iboto kita, termasuk kelompok yang berhak mengambil namboru dan iboto kita, yaitu kelompok bere dan amang boru

c. Mora: sapaan bagi kelompok yang semarga dengan ibu kita (pemberi boru)

d. Pisang raut: sapaan untuk anak boru dari anak boru. Misalnya kita A, anak boru kita adalah B, lalu C mengambil boru dari B, maka tutur A kepada C adalah  pisang raut

e. Hula-hula: kebalikan dari pada pisang raut. Dalam kasus (d), maka tutur C kepada A adalah hulahula.