Marga Purba (Simalungun)

Pendahuluan

Dalam khasanah kebudayaan Simalungun, terminologi “Purba” memiliki beragam makna di antaranya bermakna timur, salah satu bagian delapan arah mata angin (deisa na waluh). Kata ini serumpun dengan kata “purwa” dalam bahasa Jawa yang berakar dari bahasa Sanskerta “purva”. Selain itu Purba juga bermakna pertanda, takdir, gelagat, atau ramalan (tondung), dalam tradisi Simalungun pada saat seorang wanita mengandung maupun menjelang masa persalinan (maranggi), orangtuanya akan bermimpi tentang pertanda atau takdir (purbani) kehidupan bagi anak mereka kelak. Takdir kehidupan sang anak yang masih dalam kandungan (parnaibataan) ditentukan oleh mimpi orangtuanya. Bila orangtuanya bermimpi meraih bulan, maka anak mereka kelak akan menjadi pembawa terang, namun sebaliknya bila orangtuanya bermimpi mendaki gunung tetapi tidak sampai ke puncak, maka pertanda kehidupan anak mereka kelak akan menderita.

Purba merupakan salah satu marga dari empat marga besar di Simalungun, ada sejumlah pendapat mengenai tanah asal marga Purba, dalam cerita rakyat Simalungun dikenal tokoh bernama Narasi yang diyakini sebagai  leluhur awal marga Purba yang bermigrasi ke tanah Simalungun bersama dengan Narasag dan Naraga leluhur Saragih dan Sinaga atas anjuran dari empat orang putera Darayad Damanik leluhur awal marga Damanik. Peristiwa ini berlangsung sekitar abad 3 masehi, sewaktu maraknya pergolakan politik di India. Mereka datang dari bagian timur laut India sekitar daerah Chota Nagpur, pegunungan Assam, dan Nagaland; mereka berlayar melalui Selat Malaka hingga sampai ke Sumatera Timur.

Adapun lokasi yang menjadi tempat berlabuh dan pintu masuk mereka ke Sumatera Timur adalah melalui Pagurawan di Batubara. Mereka lalu membentuk sebuah kediaman di sekitar aliran sungai Bah Hapal, dari sinilah keturunan mereka perlahan masuk ke pedalaman. Selain itu, ada juga yang berpendapat leluhur marga Purba berasal dari Siam dan hipotesa lain justru mengarahkan asal kedatangannya dari Manchuria. Batrlett (1952:633) dikutip dari Arlin Dietrich (2003:13) menerangkan bahwa nenek moyang orang Simalungun pada awalnya berdiam di pesisir pantai timur, akibat desakan dari etnis Melayu yang datang dari Semenanjung Malaya mendesak orang Simalungun menyingkir ke pedalaman hingga mencapai pantai Danau Toba. Sampai sekarang penduduk Melayu di Serdang dan Deli masih banyak yang mengaku kalau nenek moyang mereka ada yang berasal dari suku Simalungun.

Dalam cerita rakyat Simalungun, dikenal dua orang tokoh marga Purba yang termasyhur dalam sejarah yaitu Sangsi Purba dan Purba Aji (Purba Parajiaji), keduanya menjadi tokoh petualang yang melegenda dalam banyak suku bahkan di kalangan suku Melayu dan Minangkabau, nama Sangsi Purba tercatat dalam tambo alam Melayu dan Minangkabau. Sedang Purba Aji dikenal juga pada masyarakat Pakpak dan namanya diabadikan sebagai nama tempat di tanah Karo, yang sekarang beralih menjadi Perbaji (masuk Kecamatan Tiga Nderket sekarang). Riwayat hidup mereka tidak banyak terekam dalam sejarah, namun keberadaan mereka tetap menjadi ingatan bagi para keturunanannya.

Pada zaman dahulu diketahui ada tiga orang puteri Purba Simalungun yang menikah dengan orang Toba, hal ini diketahui dari cerita rakyat yang berkembang di kalangan orang Toba. Dalam buku Pustaha Batak: Tarombo Dohot Turiturianni Bangso Batak karangan W.M Hutagalung dikisahkan bahwa Malau Raja generasi ketiga dari tokoh legendaris Si Raja Batak waktu berkelana ke tanah Simalungun, ia sampai ke daerah kediaman marga Purba. Di tempat ini, dia menaruh hati dengan salah seorang puteri dari marga Purba Siboro lalu menikahinya dan melahirkan tiga orang putera bernama Gurning, Ambarita Raja, dan Lambe Rajam sedang pendapat lain mengatakan mereka lahir di daerah Limbong. Demikian juga Datu Pejel alias Tuan Sorba Dijae generasi keempat dari Si Raja Batak yang merupakan saudara dari Tuan Sorba Dibanua dan Tuan Sorba Dijulu. Datu Pejel menikah dengan puteri Purba Simalungun sewaktu pindah dari Pangururan ke Sibisa daerah Uluan, puteranya kemudian dimargakan menurut marga ibunya. Selain keduanya, putera Raja Silahisabungan yaitu Sondi Raja leluhur marga Rumasondi generasi keenam dari Si Raja Batak juga menikahi puteri dari marga Purba Siboro yang menetap di Sagala. Selanjutnya,

Ypes memberitakan dalam notanya bahwa pada zaman dahulu di Cinendang tanah Pakpak pernah berdiri tiga kerajaan kecil bersaudara, salah satunya diperintah oleh marga Purba Tondang. Ibukotanya berada di Panisihan dekat Pakiraman. Demikian juga di Belagen tanah Pakpak, Ypes melaporkan bahwa ada seorang Raja Lela bernama Tiar dari marga Kaloko, panglimanya bernama Pusama bermarga Purba.

Perkembangan Marga Purba

Pada awalnya marga Purba tidak mengenal cabang marga seperti yang berlaku saat ini, kemunculan sejumlah cabang marga Purba terjadi pasca adanya migrasi dari daerah lain.

Adapun cabang marga Purba Simalungun yaitu
  • Tua
  • Tambak
  • Sigumondrong
  • Silangit
  • Sidasuha
  • Sidadolog
  • Sidagambir
  • Siboro
  • Girsang
  • Pakpak
  • Tambun Saribu
  • Tondang
  • Tanjung
  • Sihala
  • Manorsa.

Lahirnya Purba Tambak diawali dari Kerajaan Silou yang pada awalnya berdiri di Asahan di sekitar hulu sungai Silou di Bandar Pasir Mandogei (nama sungai Silou di Asahan berasal dari Kerajaan Silou). Kerajaan ini didirikan oleh Panglima Indrawarman seorang keturunan Minangkabau yang berasal dari Kerajaan Dharmasraya di Jambi bersama rombongannya tentara Hindu Jawa dari Kerajaan Singosari (Mulyana, 2006: 18). Untuk mengingatkan asalnya dari Jambi, hingga saat ini di Simalungun masih ditemukan kampung bernama Bah Jambi, Pagar Jambi, dan Mariah Jambi.

Dalam cerita rakyat Simalungun dikenal juga tokoh bergelar Panglima Bungkuk yang juga berasal dari Jambi, tokoh ini kemungkinan besar adalah sosok yang sama dengan Indrawarman (patung Panglima Bungkuk hingga kini masih bisa disaksikan di daerah Tanoh Jawa, Simalungun). Indrawarman menyingkir ke pedalaman Simalungun akibat enggan tunduk kepada Kerajaan Majapahit dan memilih bergabung dengan penduduk setempat yaitu suku Simalungun dan bersama-sama mendirikan Kerajaan Silou yang tunduk pada Kerajaan Nagur. Pada tahun 1350 tentara Majapahit dipimpin Adityawarman kembali mengadakan ekspedisi ke pulau Sumatera datang untuk menghukum Indrawarman, perang pun meletus antara Silou dan Majapahit, Indrawarman tewas dalam pertempuran. Keturunannya yang selamat melarikan diri ke Haranggaol yang diikuti perpindahan massal golongan marga Purba, di tempat pelarian ini mereka kemudian membangun kembali Kerajaan Silou. Saudaranya yang lain ada yang sampai ke dusun Raja Nagur di Raya Kaheian, di tempat ini mereka mendirikan sebuah kerajaan baru di sekitar hulu sungai Ular dan sungai Padang.

Raja Silou memiliki beberapa orang putera, salah seorang di antaranya membentuk perkampungan di Tambak Bawang yang pada masa itu penuh dengan rawa-rawa. Di tempat ini, ia membuat sebuah kolam dan menamakannya Tambak Bawang artinya kolam terbuat dari rawa-rawa. Sejak itu marganya lebih dikenal dengan sebutan Purba Tambak Bawang, ia menikah dengan puteri Karo dari Sukanalu dan memperoleh lima orang anak. Putera sulungnya bergelar Ompung Nengel yang memiliki gangguan pendengaran, putera kedua adalah seorang yang sakti, sepeninggalnya sosoknya dikeramatkan (sinumbah). Adik mereka yaitu Nai Horsik, Si Boru Hasaktian (pemilik pemandian keramat yang ada di Tambak Bawang), dan putera bungsu pergi ke Sukanalu ke kampung pamannya, keturunannyalah Tarigan Tambak yang ada di Sukanalu dan Kebayaken. Ompung Nengel merupakan leluhur Tarigan Tambak yang ada di Tambak Bawang dan Bawang, sepeninggal ayahnya ia meneruskan jabatan sebagai kepala kampung (pangulu) Tambak Bawang. Sedang adiknya Nai Horsik pergi ke timur dan sampai di Silou Buntu, ia menikah dengan puteri Raja Nagur dari klan Damanik dan melahirkan putera bernama Jigou.

Gambar 1: Raja Dolog Silou, Tuan Tanjarmahei Purba Tambak

Dalam naskah kuno Partingkian Bandar Hanopan peninggalan Kerajaan Dolog Silou yang disimpan oleh Tuan Bandar Hanopan, dikisahkan bahwa Tuan Sindar Lela bertemu dengan Puteri Hijau di aliran Sungai Petani dekat pohon tualang di sekitar Deli Tua. Sindar Lela memiliki keahlian berburu dan juga pemancing yang handal sehingga ia digelari dengan Pangultopultop, hal inilah yang menginspirasi lahirnya simbol Purba Tambak yaitu ultop (sumpit) dan bubu (alat penangkap ikan); keturunanya disebut Purba Tambak Tualang. Pertemuan Puteri Hijau dengan Sindar Lela terjadi pada waktu Aceh menyerang Haru. Keduanya menjalin hubungan saudara, Sindar Lela kemudian membawa Puteri Hijau ke Sinembah untuk mencari perlindungan, namun Datuk Sinembah keberatan. Dari sini, mereka pergi ke Haru. Sultan Haru rela membantu asalkan Puteri Hijau bersedia menjadi permaisurinya. Mendengar Puteri Hijau berada di Haru, Sultan Aceh mengirim armada untuk menyerang Haru sekaligus membawa Puteri Hijau kembali ke Aceh. Setelah berhasil menghancurkan Haru, Puteri Hijau diboyong ke Aceh, sultan lalu membujuknya agar rela menjadi isterinya, keinginan ini diterima oleh Puteri Hijau namun dengan syarat Sultan Aceh segera memberikan legitimasi kepada saudaranya Sindar Lela menjadi raja di Kerajaan Silou.

Setelah ditabalkan menjadi raja, Sindar Lela kembali ke Simalungun dan mendirikan kampung Silou Bolag. Ia menikah dengan puteri Raja Nagur bernama Ruttingan Omas dan melahirkan dua orang putera, yang sulung bernama Tuan Tariti dan yang bungsu bernama Tuan Timbangan Raja. Anak yang sulung menggantikan ayahnya sebagai raja di Silou Bolag, sementara yang bungsu pindah ke Silou Dunia dan menjadi Raja Goraha Silou. Sindar Lela juga mengambil puteri Raja Pohan dari Banua yang disebut Puang Toba. Tuan Timbangan Raja menikah dengan Bunga Ncolei puteri Penghulu Pintu Banua dari Barus Jahe dan melahirkan dua orang putera dan seorang puteri. Salah seorang puteranya kemudian mendirikan kerajaan dekat jurang di tanah Raja Marubun di tepi Bah Karei berbatas dengan Rih Sigom dan Sibaganding dekat Bangun Purba, keturunannya kemudian bergelar Purba Tambak Lombang. Tuan Timbangan Raja juga menikah dengan puteri puteri Raja Nagur dari Parti Malayu klan Damanik dan hanya melahirkan seorang putera.

Pada masa terjadinya konflik antara Silou dengan Aceh karena perebutan Gajah Putih, Silou mengalami kekalahan. Sebagai tebusan, pasukan Aceh memboyong Raja Marubun, permaisuri Tuan Silou Dunia, dan dua orang anaknya, salah satunya seorang wanita. Sedang dua puteranya yang lain berhasil menyelamatkan diri, keduanya bergelar Raja Goraha Silou dan Raja Anggianggi. Setelah berada di Aceh, putera Tuan Silou Dunia mampu merebut hati Sultan Aceh sehingga dijadikan menantu lalu didudukkan sebagai penguasa di Tarumun, Aceh Singkil. Raja Dolog Silou terakhir Tuan Bandar Alam Purba Tambak dalam bukunya “Sejarah Keturunan Silou” menyebutkan bahwa Tuan Rajomin Purba Tambak bergelar Nai Horsik putera Tuan Bedar Maralam juga menikah dengan puteri Sibayak Barus Jahe. Di mana acara pernikahan mereka diadakan di kampung Barubei, pada waktu itu hadir Pangulu Tanjung Muda, Tambak Bawang, Purba Tua, Partibi Raja, Huta Saing, dan Purba Sinombah. Selain dengan puteri Sibayak Barus Jahe, Tuan Rajomin juga mengambil puteri Raja Pohan dari Banua Toba, saudara perempuan dari Raminta sebagai isteri.

 Gambar 2: Raja Dolog Silou, Tuan Ragaim Purba Tambak bersama para penasehatnya

Namun belakangan, pihak Barus juga turut menikahi puteri Purba Tambak. Dua orang puteri Tuan Lurni bernama Panak Boru Tobin dan seorang lagi disebut Bou dijadikan isteri oleh Milasi Barus, Penghulu Tanjung Muda. Dari Panak Boru Tobin lahir tiga orang anak laki-laki bernama Sakka Barus, Tombaga Barus, Kudakaro Barus, dan seorang perempuan bernama Tapiorei beru Barus yang kemudian kawin dengan Tuan Duria Purba Silangit, Penghulu Gunung Mariah dan melahirkan putera mereka bernama Tuan Samperaja Purba Silangit. Saudarinya yang lain adalah Tuan Dormagaja, memiliki enam orang anak, pertama bernama Tapiara kawin dengan Laut Sipayung, anak mereka bernama Garain, kedua Tamin kawin dengan Tombaga Barus, anak mereka bernama Martika Barus. Ketiga Hamura kawin dengan Andim Sipayung, anak mereka bernama Morgailam Sipayung, Keempat Loin kawin dengan Jimat Sipayung, anak mereka bernama Kawan Sipayung. Kelima Rabini kawin dengan Ramauli Barus dan keenam bernama Arbun kawin dengan Taris Barus. Selanjutnya puteri Tuan Dorahim bernama Panak Boru Bungalou kawin dengan Sakka Barus, diperoleh anak laki-laki bernama Jotar Barus, dan tiga anak perempuan bernama Dingin, Renep, dan Langges.

Tuan Tanjarmahei memiliki tiga puluh orang anak dari dua orang isteri, pertama boru Saragih Simarmata dari Purba Saribu dan kedua bernama Bungalain boru Saragih Garingging puteri Raja Raya. Salah seorang puteranya bernama Tuan Huala memiliki lima orang isteri, dari isteri keempat bernama Ragi boru Saragih melahirkan tiga orang puteri bernama Rainggan kawin dengan Tandang Sipayung, Tarmulia kawin dengan Bolong Barus, dan Parpulungan kawin dengan Banci Sinulingga. Sedang dari isteri kelima bernama Ikim boru Saragih lahir seorang puteri bernama Ramaidah yang kawin dengan Tolap Barus. Puteri Tuan Tanjarmahei bernama Panak Boru Linggainim kawin dengan Bintala Barus dan memperoleh 3 orang anak laki-laki bernama Rajanimbang kawin dengan Tiomina boru Tarigan Tua, Nokoh kawin dengan Tamin boru Purba, dan Ingatbona kawin dengan Maria boru Bangun. Dari hasil pernikahan Rajanimbang dengan Tiomina boru Tarigan Tua lahir Dr. Ir. Takal Barus.
Gambar 3: Raja Dolog Silou, Tuan Ragaim Purba Tambak

Selain di tanah Simalungun dan Karo, marga Tambak juga ditemukan di daerah Padang Lawas dan Kota Pinang. Menurut Nalom Siahaan B.A dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Batak menerangkan bahwa marga Tambak merupakan penduduk asli di Padang Lawas, akibat kehadiran marga Harahap mereka terdesak dan pindah ke Kota Pinang. Bila berkunjung ke Padang Lawas dan Mandailing, kita akan menemukan sejumlah perkampungan yang mengabadikan marga Purba seperti Bangun Purba, Purba Bangun, Tanjung Purba, Purba Sinomba, Purba Tua, Purba Lama, dan Purba Baru, apakah perkampungan ini ada kaitannya dengan keberadaan Purba Tambak di tempat ini, barangkali perlu penelitian lebih lanjut. Marga Tambak inilah yang ditemui oleh Batara Sinomba dan puteri Lenggani dari Pagaruyung. Dari kedua orang inilah cikal bakal lahirnya Kesultanan Kota Pinang, Bilah, Panai, Kualuh, dan Asahan.

Gambar 4: Raja Dolog Silou, Tuan Ragaim Purba Tambak (kanan) bersama dengan Raja Siantar, Tuan Sawadim Damanik (kiri)

Purba Sidasuha merupakan saudara Purba Tambak, marga ini berasal dari Suha Na Bolag sebuah kampung dekat Tiga Runggu yang didirikan oleh Raja Silou. Menurut salah satu versi, pada zaman dahulu Raja Silou yang tinggal di Silou Buntu memiliki dua orang putera dan seorang puteri, anak bungsunya sangat rajin bekerja ke ladang dan juga menyadap enau, berbeda dengan saudaranya yang sulung lebih gemar berkelana, berjudi, dan berniaga. Sedang saudara perempuan mereka pergi mengikuti suaminya di Dolog Hasian masuk Kecamatan Raya sekarang (pendapat lain mengatakan tinggal di Malasori, Dolog Masihol).

Pada suatu hari, putera bungsu Raja Silou sangat kecewa dengan abangnya karena menyantap habis makanan dan juga tuak yang disadapnya. Dia lalu menegur abangnya atas perbuatan yang dia lakukan, namun abangnya tidak mempedulikannya justru menghinanya dengan ucapan: “suhasuhani bagod in do na suman inumonmu, tandani ho silojaloja irumah bolon on!” (Artinya: sisa tuak itu yang layak engkau minum selaku suruhan di istana ini). Karena merasa terhina, dia lalu memukul abangnya, akibatnya terjadilah perkelahian di antara mereka. Namun karena abangnya lebih kuat, dia lalu memutuskan pergi dari Silou Buntu menuju ke tempat saudara perempuannya di Dolog Hasian (Malasori?).

Sesampainya di Dolog Hasian dia menceritakan semua kejadian yang dia alami kepada saudara perempuannya dan mengatakan bahwa dia sedang diburu oleh abangnya untuk dibunuh. Demi menyelamatkan nyawa saudara laki-lakinya, dia menyuruhnya agar bersembunyi di bawah “palakka pangulgasan” (tempat merendam benang tenunan), saudara perempuannya ini lalu duduk di atasnya sambil bertenun. Akhirnya rombongan abangnya tiba di Dolog Hasian dan menanyakan perihal adiknya, saudara perempuannya ini menunjukkan arah yang berbeda, sehingga selamatlah saudara laki-lakinya itu dari pengejaran abangnya. Atas jasa saudara perempuannya ini, dia bersumpah akan selalu mengingatnya hingga keturunannya mendatang dan akan menyayangi mereka demikian juga anak perempuan mereka (panogolan).

J. Tideman dalam bukunya “Simeloengoen: het land der Timoer-Bataks in zijn vroegere isolatie en zijn ontwikkeling tot een deel van het cultuurgebied van de Oostkust van Sumatra”, dia mengisahkan bahwa pada zaman dahulu Tuhan Suha Na Bolag memiliki dua orang anak, yang sulung bekerja sebagai petani, sedang yang bungsu setiap pagi pergi menyadap enau untuk dijadikan tuak. Sepulang menyadap enau, dia kemudian pergi berburu. Akibat sering pulang terlambat, abangnya selalu menyantap habis makanan dan juga tuak dan hanya meninggalkan sisa-sisa (tebateba) untuk adiknya. Hal ini menimbulkan kemarahan adiknya, dia lalu memukul abangnya lalu pergi meninggalkan rumah dan bersembunyi di hutan. Akibat perlakuan tidak adil dari abangnya, dia lalu memutuskan meninggalkan Suha Na Bolag selamanya, namun sebelum dia pergi, dia teringat dengan kitab sihir Parpaneian yang dimiliki ayahnya yang terbuat dari kulit kayu alim warisan keluarga turun temurun. Dengan mempelajari kitab tersebut, manusia mampu mengetahui kapan saat yang baik dan buruk dalam melakukan sebuah tindakan. Dia lalu mengambil kitab tersebut dan membawanya menuju ke arah timur hingga tiba di kampung Dusun Raja Nagur, kampung ini sekarang terletak di sekitar Pamatang Panei.

Di tempat ini, dia menikah dengan putri kepala kampung bermarga Damanik. Untuk menutupi jejaknya, dia kemudian mengganti marganya menjadi Purba Suha atau Sidasuha (sebagian berpendapat namanya adalah Tanjarum Purba Sidasuha). Dia semakin dikenal secara luas oleh masyarakat setelah kematian ayah tirinya yang menjabat sebagai kepala kampung.

 Gambar 5: Tuan Anggi Dolog Silou, Tuan Rajabulan Purba Tambak bersama dengan keluarganya

Dia mencoba memperluas wilayah dengan menaklukkan Dusun Sapala Tuhan, kemudian berkembang desas-desus di tengah masyarakat bahwa dia memiliki kekuatan gaib yang bersumber dari kitab Pustaha Panei Bolon, orang menduga dia berhasil melakukan segala hal berkat bantuan kitab tersebut. Untuk memperkuat kedudukannya, dia kemudian pergi ke Kerajaan Siantar untuk mempersunting puteri raja Siantar marga Damanik. Berkat bantuan mertuanya Raja Siantar, Sidasuha diangkat menjadi raja di daerah bekas kekuasaan Raja Onggou Saragih Sipoldas. Kisahnya berawal saat diadakan pertemuan dengan para Raja Marompat di Dolog Saribu yang dihadiri Raja Tanoh Jawa, Silou, dan Sipoldas.

Di hadapan mereka, Raja Siantar mengatakan bahwa menantunya memiliki sebuah kitab sakti bernama Pustaha Panei Na Bolon, kitab tersebut dapat dibuka dalam ruangan gelap karena tulisan yang tersurat dalam kitab itu memancarkan sinar seperti seekor naga (panei) yang mampu bersuara dan meramalkan segala sesuatu yang akan terjadi. Mendengar kisah yang disampaikan Raja Siantar itu, Raja Onggou Saragih sama sekali tidak percaya, dengan ucapan takabur dia mengatakan: “Anggo tongon do adong ai, age huborei harajaonhu on bani”.  Untuk membuktikan ucapannya, Raja Siantar lalu menyuruh Sidasuha agar masuk ke dalam balai untuk memperlihatkan kitab tersebut. Agar kitab tersebut dapat dibuka, Sidasuha menyuruh agar semua pintu dan jendela ditutup, dia lalu membukanya dengan perlahan.

Semua yang hadir sangat terkejut ketika seekor naga keluar sambil memancarkan cahaya yang gemerlapan sembari berkata: “Ahu do na manatang tanoh on, anggo ulungku sanggah dompak hapoltakan margoling do ahu. Mardugur ma tanoh on, ai ma na ihatahon manisia lalou. Sahali waluh taun margoling do ahu, mardugur ma homa lalou”. Di tengah naga itu mengeluarkan suara, Raja Onggou berseru sembari membenarkan ucapan naga itu, dia mengatakan sejak delapan tahun terakhir telah terjadi gempa sebanyak dua kali. Melihat kesaktian dan kebenaran dari kitab Pustaha Panei Na Bolon tersebut Raja Onggou, akhirnya menyesali kesombongannya dan dengan sikap penuh tanggungjawab dia pun memenuhi janjinya menyerahkan kekuasaannya kepada Sidasuha. Pada saat itu juga mereka bersepakat merajakan Sidasuha dan memintanya duduk di atas singgasana Raja Onggou, namun Sidasuha menolaknya. Dia memilih dinobatkan di atas Pustaha Panei Na Bolon karena itulah kerajaannya dinamakan Panei. Terdengarlah berita ke segala penjuru bahwa Kerajaan Sipoldas sudah beralih menjadi Kerajaan Panei. Jabatan Raja Onggou turun menjadi Parbapaan yang tunduk dibawah Kerajaan Panei, keturunannya kemudian menjadi pihak menantu (anak boru) dari Raja Panei.

Raja Onggou memberikan kuasa kepada Sidasuha agar memilih tempat sebagai pusat pemerintahannya, ada empat lokasi yang ditunjukkan oleh Raja Onggou yaitu Pamatang Panei, Nagori Bosar, Silahuan, dan Baris Tongah. Sidasuha kemudian memilih Pamatang Panei karena menurutnya sangat strategis untuk jadi pusat pemerintahan. Para penguasa Panei ketika dikukuhkan sebagai raja wajib duduk di atas Pustaha Panei Bolon sebagai syarat untuk sah menjadi Raja Panei. Pada zaman Belanda, di lingkungan istana Kerajaan Panei dikukuhkan tiga jabatan yang berfungsi sebagai Dewan Kerajaan, yaitu:

1. Orang Kaya dari marga Purba Girsang dan diwakili oleh Tuan Dolog Batu Nanggar, salah seorang Parbapaan yang dulu menjadi vazal Panei.

2. Jagoraha atau panglima pasukan, jabatan ini dipegang oleh seorang dari marga Purba Tambun Saribu yang diwakili oleh Tuan Simarimbun Parbapaan Panei.

3. Tuan Suhi dari marga Purba Sidadolog yang diwakili oleh Tuan Sinaman Parbapaan Panei.

Raja pertama Panei menurunkan seorang putra yang pincang bernama Marsitajuri, salah satu kakinya lebih panjang dari yang lain. Dalam kondisi pincang, Marsitajuri mampu menunggang kuda dan menjadi panglima dalam setiap peperangan, sejak itu dia dikenal dengan julukan Parhuda Sitajur. Dia menaklukkan berbagai kampung termasuk Dusun Siantar, Urung Sidadolog, dan Dusun Sapala Tuhan (sekarang Panei Hulu), dan membangun sejumlah kampung baru di sekitarnya. Pada masa pemerintahannya, perluasan wilayah Kerajaan Panei terus dilakukan, pihak lawan sangat takut padanya. Berkat kesaktian kudanya yang dapat menghilang di tengah peperangan, pihak lawan kerap menggelarinya dengan “Hantu Panei” yaitu roh yang jahat.

Sampai sekarang orang masih mengingat sumpah bahwa Hantu Panei adalah hantu yang paling jahat. Pada generasi berikutnya, salah seorang keturunan Purba Sidasuha yang berdiam di sebuah pegunungan membentuk cabang baru dengan sebutan Purba Sidadolog, daerah awal penyebaran marga ini bermula dari Sinaman, keturunannya kemudian menyebar dan mendirikan sejumlah perkampungan seperti Bangun Panei, Urung Panei, dan Urung Sidadolog. Akibat terjadi perselisihan di antara keturunannya, muncul pecahan baru yaitu Purba Sidagambir. Dia sehari-hari bekerja sebagai petani gambir, mendirikan kampung Rajaihuta, kemudian keturunannya mendirikan kampung baru bernama Dolog Huluan.

Keturunan Purba Tambak yang lahir dari puteri Saragih Simarmata pindah ke Cingkes dan menamakan diri Purba Sigumondrong. Dari Cingkes inilah keturunannya pergi merantau ke berbagai tempat. Saat ini keturunan Purba Sigumonrong menyebar luas di sejumlah daerah di Kabupaten Simalungun dan tanah Karo (Tarigan Gerneng) mulai dari Cingkes, Bawang, Saribu Dolog, Lokkung, Raya Panribuan, Sondi Raya, Mappu, Sinondang, Merek Raya, Raya Tongah, Bah Hapal, dan Nagori Dolog. Dari sini keturunannya menyebar lagi ke kawasan di sekitarnya seperti Sambosar Raya, Marubun Lokkung, dan Togur. Adapun Purba Sigumondrong yang berdiam di Marubun Lokkung dan Togur sekitarnya merupakan para perantau dari kampung Lokkung di Raya yang sengaja datang ke tempat itu untuk membuka perladangan. Sejarah kehadiran Purba Sigumondrong ke Raya diawali dari perjalanan Tuan Pining Sori Munthe yang mengadakan ekspedisi perjalanan dengan menunggang seekor kerbau Si Nangga Lutu dari Garingging. Dalam perjalanannya, dia  melewati Cingkes, dari sinilah salah seorang keturunan Purba Sigumondrong ikut serta bersama rombongan Tuan Pining Sori menuju Raya Simbolon.

Menurut cerita lisan di Simalungun, leluhur Purba Silangit berasal dari Dolog Tinggi Raja. Pada zaman dahulu kawasan Dolog Tinggi Raja dikuasai oleh Purba Silangit, konon terbentuknya cagar alam Dolog Tinggi Raja diyakini akibat dari tragedi bencana banjir yang menimpa wilayah kekuasaan Raja Purba Silangi. Masyarakat setempat masyarakat setempat meyakini usai tragedi inilah menjadi awal mula munculnya massa air panas dan kawah putih di wilayah ini. Keturunannya pun berhamburan meninggalkan Dolog Tinggi Raja, ada yang pindah ke Raya, Toras, Langit Sinombah, dan Purba Sinombah. Dari Toras keturunannya kemudian pindah lagi ke Panribuan, lalu dari Langit Sinombah menyebar ke Saran Padang. Kemudian dari Panribuan keturunannya membentuk perkampungan baru di Gunung Mariah yang kini masuk wilayah Deli Serdang terus ke Bangun Sinombah, Bandar Sinombah hingga ke Bah Gerger di Lubuk Pakam. Dari kampung Toras, Panribuan, Saran Padang, dan Langit Sinombah. Dari sini mereka menyebar ke tanah Karo, sebagian lagi bergerak ke Deli Serdang menduduki daerah Gunung Mariah, Bangun Sinombah, dan Bandar Sinombah hingga ke Bah Gerger di Lubuk Pakam. Dari Gunung Mariah, keturunannya pindah lagi ke tanah Karo.

Ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa Purba Sigulang Batu konon lahir dari salah seorang keturunan Purba Silangit yang pergi berkelana ke Humbang. Adapun leluhur Purba Tondang dan Purba Tambun Saribu adalah dua marga bersaudara, leluhur mereka berawal dari kampung Hinalang Nabolag. Dari sini keturunannya terpecah, salah seorang pergi ke Sibarabara dan menjadi Purba Tondang, sedang seorang lagi menuju Silombu (tempat ini kini sudah berubah menjadi area perladangan) melahirkan Purba Tambun Saribu. Dari Sibarabara, keturunan Purba Tondang membentuk perkampungan di Hitei Tanoh (Huta Tanoh sekarang) di Kecamatan Purba. Keturunannya kemudian memperluas wilayah lagi hingga sampai Hinalang dan Purba Hinalang, marga ini merupakan penduduk pribumi di Hinalang yang menyambut kehadiran Purba Pakpak yang datang dari Pamatang Purba. Dari Hinalang ada yang pindah ke Rahut Bosi terus ke tanah Karo dan beralih menjadi Tarigan Tondang dan Tarigan Tendang. Sementara keturunan Purba Tambun Saribu, dari Silombu menyebar ke Binangara dan Haranggaol di Kecamatan Haranggaol Horisan, keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Tambun. Setiap tahun seluruh keturunan Purba Tambun Saribu baik di Simalungun maupun tanah Karo mengadakan pertemuan tahunan yang bertempat di Haranggaol dan tugu marga ini sudah didirikan di Binangara.

Cabang marga Purba lainnya yaitu Purba Tua. Eksistensi marga ini ditandai dengan adanya kampung Purba Tua yang berada di Kecamatan Silimakuta yang kemudian terbagi menjadi Purba Tua Bolag dan Purba Tua Etek. Dari Purba Tua, keturunannya menyebar ke Rahut Bosi, Cingkes, Tambak Bawang, sebagian pindah ke tanah Karo dan bermukim di Juhar menyandang marga Tarigan Tua. Marga inilah yang menerima kehadiran salah seorang keturunan marga Cibero di Juhar yang datang dari Tungtung Batu yang kemudian beralih menjadi Tarigan Sibero, peristiwa ini terjadi sekitar 500 tahun yang lalu. Dari marga ini muncul Purba Tanjung di mana keturunannya banyak mendiami daerah Sipinggan, simpang Haranggaol. Namun, ada juga yang menduga leluhur mereka bermula dari Purba Tambak, di mana salah seorang keturunannya mendirikan kampung di sebuah tanjung di pinggiran Danau Toba, sehingga dinamakan Purba Tanjung.

Selain itu, ada sebuah kisah tentang seorang pemuda bermarga Tanjung berasal dari Minangkabau, yang datang ke daerah Sokkur, Raya Kaheian bersama orang Cina sebagai pekerja bangunan. Dia lalu menikah dengan seorang puteri Damanik Malayu dan disahkan menjadi Purba Tanjung. Keduanya dikaruniai lima orang anak yang bermargakan Purba Tanjung. Setelah beberapa lama berada di Sokkur, timbul kerinduannya pada kampung halamannya. Dengan berjalan kaki dia pulang kembali ke Minangkabau meninggalkan isteri dan anaknya, hingga akhir hayatnya dia tidak pernah kembali ke Sokkur. Tulang belulang isterinya disemayamkan pada peti batu dan hingga kini masih tetap diperhatikan oleh keturunannya. Bila merujuk versi Toba, Purba Tanjung dinyatakan berasal dari garis keturunan Marsahan Omas (Bercawan Emas) keturunan Purba Parhorbo. Purba Parhorbo memiliki tiga orang anak, masing-masing bernama Parhodahoda, Marsahan Omas, dan Tuan Manorsa. Konon Marsahaan Omas sering melakukan ritual “maranggir” (mandi menggunakan jeruk purut) dengan menggunakan cawan emas di sekitar kampung Nagori Kecamatan Purba. Dia memiliki tiga orang putera, yaitu Tuan Siborna, Nahoda Raja, dan Namora Soaloon. Dari Nahoda Raja lahir Raja Omo yang merupakan leluhur Purba Tanjung pertama yang bermukim di Sipinggan.

Adapun leluhur Purba Pakpak merupakan seorang pemburu yang datang dari tanah Pakpak, keturunan marga Cibero. Karena mengejar seekor burung dari Tungtung Batu Kecamatan Silima Punggapungga membawa dirinya sampai ke Simalungun dan memasuki wilayah kekuasaan Tuan Simalobong salah satu partuanon dari Kerajaan Panei. Karena kepiawaiannya ia berhasil merebut hati rakyat Simalobong yang tengah dilanda musim paceklik sehingga rakyat Simalobong dengan sukarela memanggilnya raja. Hal ini menimbulkan kemarahan dan kecemburuan Tuan Simalobong, karena ia merasa ialah satu-satunya yang berhak menyandang titel tersebut. Akibatnya Pangultopultop berurusan dengan pihak istana dan berhadapan langsung dengan Tuan Simalobong, peristiwa ini berujung dengan adu sumpah (marbija) antara keduanya yang akhirnya berhasil dimenangkan oleh Pangultopultop.

Kepemimpinan kemudian jatuh ke tangannya, di bekas wilayah kekuasaan Tuan Simalobong, ia lalu mendirikan Kerajaan Purba dan mengidentifikasi dirinya dengan sebutan Purba Pakpak. Mengenai Purba Pakpak, pengetua adat marga Cibero dengan tegas mengatakan bahwa Pangultopultop, sang pendiri Kerajaan Purba yang merupakan nenek moyang pertama Purba Pakpak juga bermarga Cibero. Nama asli Pangultopultop menurutnya adalah Gorga, ia memiliki seorang saudara bernama Batu, putera Batu bernama Buah atau Suksuk Langit yang juga digelari Pengelter yang pindah ke Juhar dan menjadi Tarigan Sibero. Mereka ini merupakan generasi keduapuluh dari Raja Ghaib, generasi awal marga Cibero. Sedang leluhur Girsang yang pertama kali pindah ke Simalungun adalah generasi kesepuluh, hingga saat ini keturunan Raja Gaib sudah mencapai tigapuluh lima generasi. Di antara keturunan Purba Pakpak ada yang membelah diri menjadi Purba Sihala dan mendiami daerah Purba Hinalang, sebagian keturunannya pindah ke Dolog Silou dan menjadi Tarigan Purba Cikala, mereka mendiami daerah Cingkes dan Tanjung Purba, Kecamatan Dolog Silou.

Gambar 6: Raja Purba XII, Tuan Rahalim Purba Pakpak

Sebagian keturunan Purba Pakpak dan Purba Girsang, ada yang meyakini bahwa Pangultopultop dan Datu Parulas adalah figur yang sama dan sosok Datu Parulas juga dikenal di kalangan marga Nainggolan, namun ada versi berbeda tentang kisah kehidupannya. Menurut keyakinan Purba Pakpak, setelah Pangultopultop mendirikan Kerajaan Purba dan memiliki seorang putera sebagai penerus tahta, dia kemudian pergi menyeberang ke Pulau Samosir. Di Samosir, dia memasuki wilayah kekuasaan Tuan Mulani Huta marga Sagala. Di tempat ini, dia membantu membunuh babi hutan dan burung buas yang konon berkepala tujuh bernama Manukmanuk Patiaraja yang sangat meresahkan masyarakat setempat. Dengan kesaktiannya, dia berhasil membasmi babi hutan dan burung buas berkepala tujuh tersebut. Atas jasanya, Tuan Mulani Huta lalu menyerahkan puterinya bernama Nai Asang Pagar kepada Pangultopultop untuk dijadikan isteri, dari hasil perkawinannya melahirkan tiga orang putera yang kemudian membawakan marga Siboro.

Pengembaraannya tidak berhenti sampai di sini. Pangultopultop kemudian pergi ke daerah Harian Nainggolan, dia menikahi salah seorang puteri Nainggolan. Di saat isterinya mengandung, dia kemudian kembali pulang ke Simalungun. Tidak lama kemudian isterinyapun melahirkan, karena Pangultopultop dianggap tidak bertanggungjawab, maka anak yang dilahirkan itu diberikan marga sesuai dengan marga ibunya yaitu Nainggolan Lumban Raja. Setelah beranjak dewasa, puteranya ini lalu bertanya tentang asal muasal ayahnya, karena rasa ingin tahunya yang sangat besar dia kemudian menerbangkan sebuah lesung dengan menggunakan ilmu bernama Sipahabang Losung, tanpa disadari lesung itu jatuh di Purba Saribu dekat Haranggaol. Dari situlah dia mengetahui kalau ayahnya berasal dari Simalungun, lesung tersebut masih bisa disaksikan hingga hari ini di Purba Saribu. Pihak Nainggolan menyebut Pangultopultop ini dengan nama Datu Parulas. Di masa tuanya, jejak pengembaraan Datu Parulas ditemukan di sekitar daerah Perdagangan, adapun Keramat Kubah Perdagangan oleh keturunannya diyakini sebagai tempat persemayaman terakhir Datu Parulas baik oleh pihak Nainggolan maupun Purba Girsang dan juga Purba Pakpak.

 Gambar 7: Raja Purba XII Tuan Rahalim Purba Pakpak didampingi para penasehatnya
Gambar 8: Rumah Bolon Kerajaan Purba
Gambar 9: Balei Bolon Kerajaan Purba 

Sementara untuk marga Girsang, ada tiga pendapat yang berkembang tentang asal marga ini.

Pertama, sebagian penyandang marga ini meyakini leluhur mereka berasal dari Lehu keturunan marga Cibero. Kedua, ada yang menyatakan keturunan Purba Sigulang Batu dari Humbang. Ketiga, ada yang mengaku berasal dari Sitampurung di Siborongborong keturunan marga Sihombing Lumban Toruan.

Komunitas Girsang yang tinggal di daerah Silimakuta umumnya meyakini asal leluhur mereka datang dari Lehu. Posisi Girsang di Lehu adalah sebagai menantu dari marga Manik, sejarahnya diawali ketika si Girsang mengembara hingga akhirnya sampai ke Lehu, dia kemudian diangkat menjadi menantu oleh Raja Mandida Manik salah seorang penguasa di Suak Pegagan tanah Pakpak. Dari hasil investigasi penulis beberapa tahun yang lalu, di mana penulis mewawancarai salah seorang pengetua adat Pakpak marga Cibero. Ia menjelaskan bahwa Girsang adalah keturunan dari marga Cibero. Dia tinggal di sebuah bukit di kampung Lehu, kediamannya merupakan tanah pemberian Raja Mandida Manik, yang dalam istilah Pakpak disebut rading beru.

Adapun nama leluhur pertama marga Girsang yg datang langsung dari Pakpak menurutnya ada dua orang, yaitu si Girsang dan Sondar Girsang, mereka ini keturunan kesepuluh dari Raja Ghaib leluhur pertama marga Cibero. J. Tideman menerangkan bahwa leluhur Girsang berasal dari tanah Pakpak, suatu hari ia mengejar seekor rusa ke timur yang ditembaknya di Lehu; rusa tersebut dikejar oleh anjingnya sampai ke Dolog Tanduk Banua (Sipisopiso). Di tempat ini mereka kehilangan jejak, si Girsang melihat seekor kerbau putih (horbou jagat), sehingga dia menduga sedang berada di suatu perkampungan. Untuk memenuhi rasa penasarannya, dia bersama anjingnya lalu mendaki Dolog Tanduk Banua, namun karena sepanjang hari mereka tidak makan dan minum, mereka lapar dan haus sehingga si Girsang duduk di bawah pohon dan meminum beberapa tetes embun yang jatuh dari daun, dia lalu bangkit berdiri. Anjingnya berjalan dengan menjulurkan lidahnya, si Girsang kemudian membantu hewan ini memetik cendawan merah dan memberikan kepadanya untuk dimakan, namun ternyata buah itu mengadung racun. Setelah dia memberikan cendawan putih, maka hewan itu kembali kuat seperti sebelumnya. Si Girsang mulai mengetahui bahwa cendawan merah itu mengandung racun, sementara cendawan putih bisa digunakan sebagai obat penawar.

Dari puncak gunung dia melihat sebuah kampung yang luas, tempat pemukiman marga Sinaga yang bernama Naga Mariah. Dia memasuki perkampungan itu dan salah seorang penduduk bersedia menerima si Girsang untuk menetap di rumahnya. Pada saat itu kampung Naga Mariah sedang terancam oleh serbuan musuh yang datang dari Kerajaan Siantar, mereka bermalam di dekat Dolog Singgalang. Mereka mengambil air dari lereng Dolog Singgalang, kini disebut Paya Siantar. Melihat kondisi ini, Tuan Naga Mariah lantas merasa sangat terancam, setelah mendengar berita ini, si Girsang lalu datang menemuinya. Dia mengajukan diri kepada Tuan Naga Mariah akan menghancurkan semua musuhnya. Tuan Naga Mariah berkata, “Jika engkau berhasil menghancurkan mereka, maka saya akan menyerahkan puteri saya untuk engkau jadikan sebagai isteri”. Kemudian si Girsang memohon kepada Tuan Naga Mariah agar memerintahkan penduduknya mengumpulkan sebanyak mungkin duri, baik duri bambu, jeruk, rotan, pandan maupun tanaman lainnya. Si Girsang lalu memetik cendawan merah, merendamnya dalam air dan menaburkan duri ke dalamnya. Duri beracun tersebut lalu ditaburkannya di sepanjang jalan yang akan dilewati oleh pihak musuh, demikian juga air beracun dimasukkannya ke dalam Paya Siantar.

Gambar 10:  Tuan Dumaraja alias Pa Moraidup Purba Girsang, Raja Silima Huta pertama. Sebelumnya ia adalah Tuan Naga Saribu dan saudaranya Pa Ngasami menjadi Tuan Siturituri. Raja Silima Huta merupakan raja untuk golongan Tarigan Girsang/Gersang, Tarigan Sahing, dan Tarigan Ijuk.

Setelah para musuh bergerak menuju Naga Mariah, mereka terjebak dalam duri dan keracunan karena meminum air dari Paya Siantar, akibatnya mereka semua mati terbunuh. Si Girsang kemudian pergi menemui Tuan Naga Mariah dan berkata: ”Ada seribu lawan mati bergelimpangan di gunung itu”, sehingga gunung tersebut dinamakan Dolog Singgalang dan tempat itu disebut Saribu Dolog. Atas jasanya, Tuan Naga Mariah kemudian mengangkatnya sebagai menantu, upacara pernikahan mereka dirayakan layaknya pernikahan seorang raja. Karena si Girsang belum memiliki rumah, untuk sementara dia tinggal di Rumah Bolon (rumah besar) di sebelah kiri rumah Tuan Naga Mariah. Akibat peristiwa ini, dia menjadi sosok yang sangat ditakuti dan terkenal sebagai dukun sakti dan ahli nujum yang memahami seni mencampur racun sehingga orang menyebutnya Datu Parulas.

Setelah wafatnya Tuan Naga Mariah, tampuk kekuasaan beralih kepadanya, tidak lama kemudian dia mendirikan kampung Naga Saribu di sekitar lokasi di mana para musuh dari Siantar itu mati dan menjadikannya sebagai ibukota Silima Huta dengan menggabungkan lima kampung yaitu Rahut Bosi, Dolog Panribuan, Saribu Jandi, Mardingding, dan Naga Mariah. Sejak terjadinya suksesi kepemimpinan ini, masyarakat setempat bermarga Sinaga, akhirnya banyak yang mengungsi ke Batu Karang dan berafiliasi dengan marga Peranginangin Bangun.

Dari isteri pertamanya Datu Parulas memperoleh empat orang putra, namun mereka belum bisa disebut sebagai putra raja, karena ayahnya belum menjadi raja. Mereka menjadi leluhur Tuan Rahut Bosi, Dolog Panribuan, Saribu Jandi, dan Mardingding. Setelah itu dia masih dikarunia dua orang putra, yang sulung membuka kampung Jandi Malasang, kemudian pindah ke Bage, di tempat ini dia membangun pasar dan balai yang mandiri. Si Bungsu mengikuti Datu Parulas dan menjadi penggantinya. Pada masa penjajahan Belanda, sementara Tuan Saribu Dolog hingga tahun 1930-an tetap membangkang pada Tuan Naga Saribu karena menganggap dirinya lebih berhak menjadi Raja Si Lima Huta. Keturunan Girsang membelah diri menjadi beberapa cabang yaitu Girsang Rumah Bolon, Nagodang, Parhara, dan Rumah Parik. Sementara yang pindah ke tanah Karo membentuk dua kelompok yaitu Tarigan Girsang dan Tarigan Gersang. Sebagian keturunan Purba Silangit ada juga yang menggabungkan diri dengan marga ini yang kemudian menjadi Girsang Silangit.