Marga Sembiring

Sembiring adalah salah satu dari 5 (lima) kelompok marga (Merga Silima) yang umum dikenal oleh subetnis Karo. Sejak kapan Sembiring menjadi bagian dari marga masyarakat Karo, tidak diketahui pasti. Tetapi diperkirakan Sembiring ini adalah marga yang termuda dari lima cabang marga yang ada pada masyarakat Karo.

“Sembiring” berasal dari kata Si + e + mbiring (mbiring artinya hitam), jadi secara harfiah berarti “yang ini hitam”. Beberapa hermenutika menjelaskan bahwa penamaan itu secara cukup jelas menunjuk pada sekelompok manusia berkulit hitam. Bagi penduduk Asia Tenggara, orang-orang yang berkulit hitam ini adalah orang Tamil atau Keling yang berasal dari Asia Selatan (India).

Penyebaran atau kedatangan orang-orang Tamil ini diperkirakan tidak bersamaan waktunya. Penyebarannya secara bergelombang. Kedatangan mereka ke dataran tinggi Karo, tidak secara langsung. Boleh jadi setelah beberapa tahun atau puluhan tahun menetap di sekitar pantai Pulau Sumatera. Mereka ini masuk ke dataran tinggi Karo, boleh jadi terutama disebabkan terdesak oleh pedagang-pedagang Arab dengan Agama Islamnya.

Brahma Putro menyebutkan kedatangan orang Hindu ini ke pegunungan (Tanah Karo) di sekitar tahun l33l-l365 masehi. Mereka sampai di Karo disebabkan mengungsi karena kerajaan Haru Wampu tempat mereka berdiam selama ini diserang oleh Laskar Madjapahit. akan tetapi ada pula yang memberikan hipotesa, penyebaran orang-orang Tamil ini akibat terdesak oleh pedagang-pedagang Arab (Islam) yang masuk dari Barus.

Orang-orang Tamil (+ pembauran) yang kalah bersaing ini lalu menyingkir ke pedalaman pulau Sumatera, salah satu daerah yang mereka datangi adalah Tanah Karo. Menurut cerita-cerita dari tetua, kedatangan mereka di Tanah Karo diterima dengan baik. Mereka disapa dengan si mbiring. Akhirnya pengucapan si mbiring berubah menjadi Sembiring dan kemudian menjadi marga yang kedudukannya sama dengan marga yang lain.


Pembagian Marga Sembiring

Adapun pembagian marga Sembiring, setelah resmi menjadi bagian dari masyarakat Karo adalah sebagai berikut

  1. Kembaren (desa asal atau Kuta Kemulihan: Samperaya, Liangmelas)
  2. Sinulaki (desa asal atau Kuta Kemulihan: Silalahi, Paropo)
  3. Keloko (desa asal atau Kuta Kemulihan: Pergendangen, Tualang, Paropo)
  4. Pandia (desa asal atau Kuta Kemulihan: Seberaya, Payung, Beganding)
  5. Gurukinayan (desa asal atau Kuta Kemulihan: Gurukinayan, Gunungmeriah)
  6. Brahmana (desa asal atau Kuta Kemulihan: Rumah Kabanjahe, Perbesi, Limang, Bekawar)
  7. Meliala (desa asal atau Kuta Kemulihan: Sarinembah, Kidupen, Rajaberneh, Naman, Munte)
  8. Depari (desa asal atau Kuta Kemulihan: Seberaya, Perbesi, Munte)
  9. Pelawi (desa asal atau Kuta Kemulihan: Ajijahe, Perbaji, Selandi, Perbesi, Kandibata)
  10. Maha (desa asal atau Kuta Kemulihan: Martelu, Pandan, Pasirtengah)
  11. Sinupayung (desa asal atau Kuta Kemulihan: Jumaraja, Negeri)
  12. Colia (desa asal atau Kuta Kemulihan: Kubucolia, Seberaya)
  13. Pandebayang (desa asal atau Kuta Kemulihan: Buluhnaman, Gurusinga)
  14. Tekang (desa asal atau Kuta Kemulihan: Kaban)
  15. Muham (desa asal atau Kuta Kemulihan: Susuk, Perbesi)
  16. Busok (desa asal atau Kuta Kemulihan: Kidupen, Lau Perimbon)
  17. Sinukaban (Tidak diketahui lagi desa asalnya)
  18. Keling (desa asal atau Kuta Kemulihan: Rajaberneh, Juhar)
  19. Bunu Aji (desa asal atau Kuta Kemulihan: Kutatengah, Beganding)
  20. Sinukapar (desa asal atau Kuta Kemulihan: Sidikalang, Sarintonu, Pertumbuken)

‘Desa asal’ disini dapat berarti desa yang dibangun atau didirikan oleh subklen marga tersebut, atau desa awal yang mereka tempati sejak menjadi bagian dari masyarakat Karo atau desa asal mereka dari daerah luar budaya Karo. Beberapa desa asal ini seperti Silalahi, Paropo, tidak terletak dalam wilayah administratif Kabupaten Karo.

 


Sembiring dari Pagaruyung dan Sembiring dari Tamil

Klen Sembiring pada masyarakat tersebut di atas berasal dari dua sumber: dari Hindu Tamil dan dari Kerajaan Pagarruyung.

Sembiring yang berasal dari Hindu Tamil disebut Sembiring Singombak. Dijuluki Sembiring Singombak karena dahulu, apabila ada keluarga mereka yang meninggal dunia, mereka tidak mengubur jenasahnya tetapi memperabukannya (dibakar) dan abunya ditaburkan di Lau Biang (Sungai Wampu). Mereka ini berpantang memakan daging anjing (si la man biang). Sembiring Singombak ini terdiri dari 15 sub marga yaitu Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunu Aji, Busok, Muham, Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang dan Kapur (Sinukapar).

Kelompok Sembiring Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan dan Keling menganggap mereka seketurunan, sehingga mereka tidak boleh mengadakan perkawinan antar sesama mereka. Demikian pula dengan Depari, Pelawi, Bunu Aji dan Busok, mereka ini juga menganggap seketurunan dan pantang mengadakan perkawinan antar sesama mereka. Namun kesembilan sub marga Sembiring yang terbagi ke dalam dua kelompok ini, boleh mengadakan perkawinan sesama mereka di luar dari kelompoknya.

Sedangkan Sembiring yang berasal dari Kerajaan Pagarruyung terdiri dari lima sub-marga yaitu Kembaren, Keloko, Sinulaki, Sinupayung dan Bangko. Kelompok Sembiring ini juga memperabukan jenasah keluarga mereka yang meninggal dunia, tetapi abu jenasahnya mereka kubur. Bukan dibuang seperti yang dilakukan kelompok Sembiring Singombak. Mereka ini tidak berpantang memakan daging anjing (si man biang).

Adanya perbedaan antara Sembiring Siman Biang dengan Sembiring Si La Man Biang sebenarnya menurut Jaman Tarigan, seorang pengetua adat adalah merupakan kelanjutan kisah dari pelarian Sembiring Keling setelah menipu Raja Aceh yaitu dengan mempersembahkan seekor gajah putih padahal sesungguhnya adalah seekor kerbau yang dicat dengan tepung beras. Namun, pada saat mempersembahkannya hujan turun sehingga tepung beras yang melumuri kerbau tersebut luntur sehingga ia harus melarikan diri. Dalam pelariannya ia menemukan jalan buntu dan satu-satunya jalan hanya menyeberangi sungai. Sembiring Keling tersebut tidak dapat berenang sehingga ia bersumpah siapapun yang dapat menolongnya akan diberi imbalan yang sesuai. Ternyata ada seekor anjing yang menolongnya sehingga ia selamat sampai ke seberang dan dapat meloloskan diri dari kejaran pasukan Raja Aceh. Setelah diselamatkan oleh anjing ia akhirnya bersumpah bahwa ia, saudara-saudara dan keturunannya tidak akan memakan anjing sampai kapanpun. Akibat dari sumpahnya akhirnya semua Marga Sembiring yang berasal dari India Belakang beserta keturunannya ikut menanggung akibatnya sampai saat ini, yaitu apabila ada keturunan Sembiring Simantangken Biang yang memakan anjing maka akan mengalami gatal-gatal di tubuhnya.

Adapun penyebab lahirnya sub-sub marga Sembiring ini beberapa diantaranya, diduga berasal dari nama daerah asal mereka di India. Misalnya Sembiring Pandia diduga berasal dari daerah Pandya, Colia dari daerah Chola, Tekang dari daerah Teykaman, Muham dari daerah Muoham, Meliala dari daerah Malaylam, Brahmana dari kelompok Pendeta Hindu.

Masyarakat Karo mengenal totemisme (kepercayaan akan adanya hubungan khusus antara sekelompok orang dengan binatang atau tanaman atau benda mati tertentu). Oleh karena itu, muncul larangan mengkonsumsi daging binatang. Misalnya, sub-klan Sebayang haram memakan daging kerbau putih; sub-klan Tarigan haram memakan burung balam; sub-klan Sembiring Brahmana haram memakan anjing.

 

 

 

 


Sumber :

  1. http://satyasembiring.wordpress.com/2008/03/09/marga-sembiring-pada-masyarakat-karo/
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Sembiring
  3. Anonim, Monografi Daerah Sumatera Utara (Jakarta: Depdikbud, 1976)
  4. Tridah Bangun, Manusia Batak Karo (Jakarta: PT. Inti Idayu Pers, 1986)
  5. L.S. Brahmana, Menelusuri Wilayah Bahasa Karo (Medan: Tenah, 1995)
  6. Rakutta S Brahmana, Corat-Coret Budaya Karo (Medan: Ulamin Kisat, 1985)
  7. M. Hutauruk, Sejarah Ringkas Tapanuli: Suku Batak (Jakarta: Penerbit Erlangga,1987)
  8. J.H. Neumann, Sebuah Sumbangan: Sejarah Batak Karo (Jakarta: Bharata, 1972)
  9. Darwin Prinst, Sejarah dan Kebudayaan Karo (Bandung: Yirama, 1986)
  10. Brahma Putro, Karo Dari Jaman Ke Jaman I (Medan: Yayasan Massa, 1981)
  11. R.K. Sebayang,  Sejarah Sebayang Mergana (Medan: 1986)
  12. P. Tambun, Adat Istidat Karo (Djakarta: Balai Pustaka, 1952)
  13. Sarjani Tarigan (ed)., Bunga Rampai Seminar Kebudayaan Karo Dan Kehidupan Masa Kini (Medan: 1986)
  14. http://bataktobanews.com/parsiajaran/101/2016/08/20/marga-marga-di-bangso-batak
  15. H.B. Situmorang, Pustaha Ruhut-ruhut ni Adat Batak (BPK Gunung Mulia: Jakarta, 1983)