Marga Margolang/Simargolang

Sejarah Marga Simargolang 

Daerah Asahan dan Daerah Labuhan Batu cukup umum dianggap sebagai daerah “hilang” bagi suku bangsa Batak Toba Tua serupa dengan daerah-daerah Langkat, Deli dan Serdang, karena pola kebudayaan adat Dalihan Natolu hingga periode sebelum pengakuan kedaulatan Indonesia sudah hilang lenyap disana. Hilangnya khazanah budaya itu antara lain diakibatkan salah mengerti atau akibat penerangan-penerangan yang keliru pada permulaan perkembangan agama Islam yang dibawa oleh penganjur-penganjur agama itu dari negeri lain. Karena itu kerap dimengerti banyak orang bahwa jika seorang Batak telah memeluk agama Islam, dia dianggap telah menjadi “Malai” atau “Melayu”.

Pengertian yang keliru ini baru mulai berangsur diperbaiki setelah Revolusi Sosial meletus di Sumatera Timur pada tahun 1946.

Salah satu marga Batak tertua dan terkenal di daerah Asahan ialah marga “Simargolang” berasal dari Raja Simargolang salah seorang putera dari Ompu Sahang Mataniari. Tarombo marga Simargolang karena sudah sejak lama seluruhnya meninggalkan pusat negeri Toba, tidak begitu jelas lagi dalam buku-buku tarombo marga-marga sukubangsa Batak Toba tua. Menurut hikayat lama adapun Ompu Sahang Mataniari alias Ompu Sahang Matanibulan, adalah paman dari Si Nagaisori yang tercatat dalam buku tarombo sebagai putera dari Sipongki Nangolngolan (Tuanku Rao), yakni masuk ke dalam tarombo marga Rajagukguk (salah satu cabang dari marga Aritonang).

Akan tetapi berdasarkan penelitian sejarah akhir-akhir ini sebenarnya adalah masuk marga Sinambela, cucu dari Tuan Sisingamangaraja VIII. Sumber yang digunakan untuk sampai pada kesimpulan sementara ini adalah fotokopi buku silsilah yang ada di keluarga Nahar Margolang, dengan judul buku dan penulis buku yang belum penulis ketahui.

Dalam keluarga Nahar Margolang sebagaimana diceritakannya kepada anak-anaknya tentang Raja Simargolang adalah sebagai berikut :

 

Kerajaan Margolang dahulu kala berpusat di Pulau Raja dengan wilayah kekuasaan Asahan – Labuhan Batu. Raja terakhir yang mejadi raja adalah Raja Marlau. Pada saat itu Indonesia telah dijajah Belanda. Kepada Raja Marlau Belanda menawarkan untuk membangun perkebunan kelapa sawit dan pabrik di tanah kekuasaannya. Hal ini ditolak oleh Raja dengan alasan: Kalau tanah dijadikan kebun kelapa sawit oleh Belanda maka rakyatnya nanti akan menjadi budak Belanda. Hal ini tidak dikehendaki oleh Raja.

 

Pada saat itu lalu lintas komunikasi keluar kerajaan dilakukan melalui pelabuhan di Tanjung Balai. Kerajaan menetapkan seorang petugas penghubung yang dapat dipercaya untuk itu. Pada suatu ketika Penghubung tadi menghadap Raja dan memberitahukan bahwa pada saat ini banyak kesibukan yang memerlukan legalisasi kerajaan, sementara transportasi antara Pulau Raja dan Tanjung Balai cukup jauh ukuran saat itu. Untuk memudahkan administrasi beliau meminta agar Raja memberikan kepercayaan kepadanya untuk membawa Cap Kerajaan, sehingga dia tidak perlu pulang pergi ke Pulau Raja bila hanya menyangkut administrasi. Dengan alasan kemudahan administrasi maka Raja memberikan Cap Kerajaan tersebut kepada Penghubung tadi. Ternyata kepercayaan itu dimanfaatkan oleh Belanda untuk melegalisasi izin membangun kebun di Pulau Raja. Penghubung tadi dimanfaatkan Belanda untuk menggunakan Cap Kerajaan dan melakukan perjanjian dengan Belanda atas nama Raja untuk membangun kebun Kelapa Sawit.

 

Maka dengan berbekal surat tersebut Belanda membangun kebun Kelapa Sawit. Raja tidak dapat melarang karena Belanda telah memiliki surat resmi dari kerajaan yang lengkap dengan Cap Kerajaan. Alkisah Raja tidak lagi memiliki legitimasi untuk mengatur kerajaannya.

 

Gambaran umum silsilah (sundut) Simargolang dari Si Radja Batak ialah sebagai berikut:

Si Raja Batak

          ↓

Guru Tatea Bulan

          ↓

Saribu Raja I

          ↓

Raja Borbor

          ↓

T. Balasahunu

          ↓

R. Hatorusan

          ↓

O.T. Raja Doli Datu Taladibabana

          ↓

Sabung/Sahang Mataniari

          ↓

Simargolang

 


Disadur dari tulisan Nazaruddin Margolang di blog Kecamatan Bandar Pulau