Marga Sinaga Dadihoyong

Marga Sinaga Dadihoyong ini tidak ditemukan legenda atau folktale-nya pada Sinaga versi subetnis Batak Toba. Adalah versi Simalungun yang memberi kita sedikit petunjuk akan adanya marga Sinaga Dadihoyong Hotoran.

Menurut versi Simalungun, Sinaga menjadi salah satu dari 4 marga asli suku Simalungun saat terjadi “Harungguan Bolon” (permusyawaratan besar) antara 4 raja besar (Raja Nagur, Raja Banua Sobou, Raja Banua Purba, Raja Saniang Naga) untuk tidak saling menyerang dan tidak saling bermusuhan (marsiurupan bani hasunsahan na legan, rup mangimbang munssuh).

Keturunan dari Raja Saniang Naga di atas adalah marga Sinaga di Kerajaan Tanah Jawa, Batangiou di Asahan. Saat kerajaan Majapahit melakukan ekspansi di Sumatera pada abad XIV, pasukan dari Jambi yang dipimpin Panglima Bungkuk melarikan diri ke kerajaan Batangiou dan mengaku bahwa dirinya adalah Sinaga. Menurut Taralamsyah Saragih, nenek moyang mereka ini kemudian menjadi raja Tanoh Djawa dengan marga Sinaga Dadihoyong setelah ia mengalahkan Tuan Raya Si Tonggang marga Sinaga dari kerajaan Batangiou dalam suatu ritual adu sumpah (yang dikenal dengan istilah sibijaon).

Dalam perkembangannya, dikenal pula setidaknya 2 (dua) marga percabangan atau marga yang berafiliasi dari Sinaga Dadihoyong ini, yakni:

  1. Sinaga Dadihoyong/Nadihayang Hotoran
  2. Sinaga Dadihoyong/Nadihayang Bodat

Beberapa sumber mengatakan bahwa Sinaga keturunan raja Tanoh Djawa berasal dari India, salah satunya adalah menurut Tuan Gindo Sinaga, keturunan Sinaga dari Tuan Djorlang Hataran. Beberapa keluarga besar Partongah Raja Tanoh Djawa menghubungkannya dengan daerah Naga Land (Tanah Naga) di India Timur yang berbatasan dengan Myanmar yang memang memiliki banyak persamaan dengan adat kebiasaan, postur wajah dan anatomi tubuh serta bahasa dengan suku Simalungun dan Batak lainnya.


Sumber:

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Sinaga/
  2. J. Tideman, Simeloengoen, Het Land der Timoer-Bataks in Zijn Vroegere Isolatie En Zijn Ontwikkeling tot een Deel Van Het Cultuurgebied van de Oostkust van Sumatra, 1922
  3. Juandaha Raya P. Dasuha, “Perekat Identitas Sosial Budaya Simalungun” di harian Sinar Indonesia Baru (SIB) tanggal 22 Oktober 2006